Betapa Pentingnya Muraja’ah…

Murajaah Betapa Pentingnya Muraja’ah… forget…? Sebagai pelajar, mahasiswa dan (terlebih) penuntut ilmu syar’i yang telah banyak...

Rabu, 01 Maret 2017

Seorang Kakak Yang Rela Berkorban Untuk Keluarganya

Petani Sederhana

Waktu itu saya dalam perjalanan dari Bandung ke Jakarta naik pesawat.
Karena keberangkatan pesawat ditunda 1 jam saya menunggu di in HB kafetaria bandara HusenSastranugoro  sekedar minum kopi.
Di depan saya duduk seorang ibu sudah agak tua, memakai pakaian Sunda tradisional kain batik dan kebaya, wajahnya tampak tenang dan keibuan.
Sekedar mengisi waktu, saya mengajaknya bercakap-cakap.
“Badhe kamana bu”. (mau pergi ke Jkt, bu ?)
“Bu teh hayang ka singapura tapi lebet hela ti cengkareng transit diditu hela nak.”
(Iya nak, hanya transit di cengkareng terus ke Singapura)
“Hoyong nanya abi teh ka ibu, nuju naon ti singapura?”
(Kalau boleh, mau bertanya, ada keperluan apa ibu pergi ke Singapura ?)
“Bu teh ka singapura hoyong tingali budag ibu yang kadua, gadisna tina budag ibu (suamina) teh bade ngalahirken anakna diditu wae dan bu teh dibere tiket dan diurusken paspor tibiro perjalanan ka singapura dan ibu teh kaditu tinggal berangkat we tanpa mengurus nanaon didiye ”.
(Menengok anak saya yang nomor dua nak, istrinya melahirkan di sana terus saya diberi tiket dan diuruskan paspor melalui biro perjalanan. Jadi saya tinggal berangkat tanpa susah mengurus apa-apa)
“Putra lalakina bade karja timana,bu ?”
(Puteranya kerja dimana, bu ?)
“Anak ibu teh insinyur pargorengan, kerjana tina perusahaan goreng asing dan ayena teh jadi sirah kantor cabangna singapura.”
(Anak saya ini insinyur perminyakan, kerja di perusahaan minyak asing, sekarang kadi kepala kantor cabang Singapura)
“Aya sabaraha anak ibu teh kabehanana?”
(Berapa anak ibu semuanya?)
“budag ibu teh aya opat nak, tilu lalaki dan awewe hiji. yang iye teh yang ibu ceritaken ke anjen teh anak ibu yang kadua. yang katilu anak ibu teh lakiki siga yang kadua dan ayena kerja ngajer tina fakultas ekonomi UGM, dan yang bungsu teh anak ibu masih gadis desa ayena ngambil doktor ti amerika spesialis anak dan suamina sami dokter bedah dan ngajar ti universitas airlangga surabaya.”
(Anak saya ada 4 nak, 3 laki2, 1 perempuan. Yang ini tadi anak nomer 2. Yang nomer 3 juga laki2, dosen fakultas ekonomi UGM, sekarang lagi ambil program doktor di Amerika. Yang bungsu perempuan jadi dokter spesialis anak. Suaminya juga dokter, ahli bedah dan dosen di universitas Airlangga Surabaya)
“ayena timana anak kahiji atau kasulung ibu.?”
(Kalau anak sulung?)
“dia teh kerja ngagarep sawah bekas warisan al marhum bapakna nak ”.
(Dia petani, Nak. Tinggal di Godean, menggarap sawah warisan almarhum bapaknya).
Saya tertegun sejenak lalu dengan hati-hati saya bertanya ;
“tentuna ibu kacewa pisannya ka anak sulung ibu te jadi sarjana siga adik adikna .”
(Tentunya ibu kecewa kepada anak sulung ya bu. Kok tidak sarjana spt adik-adiknya).
“teu kacewa sama sakali ibu teh nak malahan kita sadulur kabehanana ngormatin pisan ka sulung tina hasil sawahna teh sisulung ngebiayayaken kami dan membantu adik adikna tamat tina sarjana”.
(Sama sekali tidak, nak. Malahan kami sekeluarga semuanya hormat kepada dia. Dari hasil sawahnya dia membiayai hidup kami dan menyekolahkan semua adik-adiknya sampai selesai jadi sarjana)
Saya merenung :
“Ternyata yang penting bukan Apa atau Siapa kita, tetapi apa yang telah kita perbuat”.
Allah tidak akan menilai apa dan siapa kita tetapi apa “amal-ibadah” kita.
Tanpa terasa air mata mengalir di pipiku…
Catatan :
Mohon maaf untuk yang tidak mengerti bahasa Sundaa, dialog dalam kisah diatas saya tulis apa adanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar