Betapa Pentingnya Muraja’ah…

Murajaah Betapa Pentingnya Muraja’ah… forget…? Sebagai pelajar, mahasiswa dan (terlebih) penuntut ilmu syar’i yang telah banyak...

Rabu, 01 Maret 2017

Rahasia Nikmat Menghafal Quran ala Ust. Deden

Rahasia Nikmat Menghafal Quran ala Ust. Deden

Rahasia Nikmat Menghafal al Quran
Berikut ini adalah 8 hal yang insyaAllah membuat kita merasa nikmat menghafal Al-Qur’an. Tips ini kami dapatkan dari ust. Deden Makhyaruddin yang menghafal 30 juz dalam 19 hari (setoran) dan 56 hari untuk melancarkan. Tapi uniknya, beliau mengajak kita untuk berlama-lama dalam menghafal.
Pernah beliau menerima telepon dari seseorang yang ingin memondokkan anaknya di pesantren beliau. “Ustadz.. menghafal di tempat antum itu berapa lama untuk bisa khatam??” “seumur hidup” jawab ust. Deden dengan santai. Meski bingung, Ibu itu tanya lagi “targetnya ustadz???” “targetnya husnul khotimah, mati dalam keadaan punya hafalan” jawab ust. Deden. “mm.. kalo pencapaiannya ustadz???” Ibu itu terus bertanya. “pencapaiannya adalah dekat dengan Allah” kata ust. Deden.
Menggelitik, tapi sarat makna. Prinsip beliau “CEPAT HAFAL itu datangnya dari Allah, INGIN CEPAT HAFAL (bisa jadi) datangnya dari SYETAN”
(Sebelum membaca lebih jauh, saya harap anda punya komitmen terlebih dahulu untuk meluangkan waktu 1 jam per hari khusus untuk Qur’an. Kapanpun itu, yang penting durasi 1 jam)
Berikut ini tips rahasia nikmat menghafal al Quran dari Ust. Deden
1. Menghafal tidak harus hafal
Allah memberi kemampuan menghafal dan mengingat yg berbeda-beda pada tiap orang. Bahkan imam besar dalam ilmu qiroat, guru dari Hafs, yang bacaan kita merujuk pada riwayatnya, yaitu Imam Asim menghafal Al-Quran dalam kurun waktu 20 tahun. Target menghafal kita bukanlah ‘ujung ayat’ tapi bagaimana kita menghabiskan waktu (durasi) yang sudah kita agendakan HANYA untuk menghafal.
2. Bukan untuk diburu-buru, bukan untuk ditunda-tunda
Kalau kita sudah menetapkan durasi, bahwa dari jam 6 sampe jam 7 adalah waktu khusus untuk menghafal misalnya, maka berapapun ayat yang dapat kita hafal tidak jadi masalah. Jangan buru-buru pindah ke ayat ke-2 jika ayat pertama belum benar-benar kita hafal. Nikmati saja saat-saat itu, saat-saat dimana kita bercengkrama dengan Allah. 1 jam waktuqu: waktu khusus Quran, pasti bisa. Sedangkan untuk urusan duniawi 8 jam kita mampu. Bukankah 1 huruf 10 pahala. Masalahnya, kita yakin atau tidak dengan janji Allah tersebut. Karena itu, jangan terburu-buru… Tapi juga bukan untuk ditunda-tunda.. habiskan saja durasi menghafal secara ‘pas’
3. Menghafal bukan untuk khatam tetapi untuk setia bersama Quran
Kondisi HATI yang tepat dalam menghafal adalah Bersyukur selain Bersabar. Memang kita sering mendengar kalimat “Harus sabar kalau menghafal Quran”, ya kan?? Sebenarnya tidak salah, mungkin kurang tepat. Karena kesannya, ayat-ayat itu adalah sekarung batu di punggung kita, yang cepat-cepat ingin kita pindahkan agar segera terbebas dari beban (khatam). Di awal surat Thoha Allah berfirman, bahwa Al-Qur’an diturunkan bukan sebagai beban. Untuk apa khatam jika tidak pernah diulang?? Setialah bersama Al-Qur’an.
4. Senang dirindukan ayat
Ayat-ayat yang sudah kita baca berulang-ulang namun belum juga masuk ke otak/hati, ayat itu sebenarnya sedang rindu kepada kita. Maka katakanlah pada ayat tersebut “I miss you too…” hehe. Silakan membaca arti dan tafsirnya… bisa jadi ayat itu adalah ‘jawaban’ dari ‘pertanyaan/permasalahan’ kita. Jangan segera menyerah dan berpikir negatif. Senanglah menjadi orang yang dirindukan ayat.
5. Menghafal sesuap-sesuap
Nikmatnya suatu makanan akan terasa ketika kita sedang memakannya, bukan sebelum makan, bukan pula setelahnya. Nikmatnya menghafal adalah ketika membaca berulang-ulang. Dan besarnya suapan juga harus pas di volume mulut kita agar makan terasa nikmat. Bila makan dengan sendok teh tidak nikmat karena terlalu sedikit, makan dengan sendok nasi (enthong) bikin sesak karena terlalu banyak. Begitu pula dalam menghafalpun. Jika “amma yatasa alun” terlalu panjang, maka cukuplah “amma” diulang-ulang, jika terlalu pendek maka lanjutkanlah sampai “anin nabail adzim” kemudian diulang-ulang. Sesuaikan dengan kemampuan ‘mengunyah’ masing-masing.
6. Fokus pada perbedaan, abaikan persamaan
“Fabi ayyi alaa’i rabbikuma tukadz dziban” jika kita hafal 1 ayat ini, 1 saja! maka sebenarnya kita sudah hafal 31 ayat dari 78 ayat yg ada di surat Ar-Rahman. Sudah hampir separuh surat kita hafal. Maka ayat ini dihafal satu kali saja, fokuslah pada ayat sesudahnya dan sebelumnya yang merangkai ayat tersebut. Dan bayangkan ceritanya sehingga tidak bingung.
7. Mengutamakan durasi
Seperti yang dijelaskan di atas, komitmenlah pada DURASI, bukan pada jumlah ayat yg akan dihafal. Ibarat taksi argo, keadaan macet ataupun di tol, taksi argo akan berjalan dengan tempo yang tetap. Serahkan 1 jam kita pada Allah.. syukur-syukur bisa lebih dari 1 jam. 1 jam itu tidak sampai 5 persen dari total waktu kita dalam sehari…!!! 5 persen untuk Qur’an… Karena itu, prioritaskan… istikomahkan !!!
8. Pastikan ayatnya bertajwid
Carilah guru yang bisa mengoreksi bacaan kita. Bacaan tidak bertajwid yg ‘terlanjur’ kita hafal akan sulit dirubah/diperbaiki di kemudian hari (setelah kita tahu hukum bacaan yang sebenarnya). Jangan dibiasakan otodidak untuk Al-Qur’an. Dalam hal apapun yg berkaitan dengan Al-Qur’an; membaca, mempelajari, mentadabburi, apalagi mengambil hukum dari Al-Quran, harus ada gurunya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar