Raka, anak orang biasa yang selalu kenal dengan kata semangat dalam dadanya. Ibunya telah tiada sejak umurnya masih muda, dan ayahnya bekerja sebagai karyawan di sebuah hotel. Namun tak lama kemudian beliau meninggalkan Raka sebatangkara karena penyait jantung yang memaksanya tuk berpisah dengan anaknya. Sejak itu, kehidupan Raka yang biasanya bahagia, menjadi derita dan ketenangan pun telah sirna dalam hidupnya, ia pun tumbuh sendiri layaknya pemuda yang lainnya yang selalu berangan-angan ingin tuk mengejar mimpi.
Saat ia mulai sebatangkara, ia tak lagi tinggal di rumahnya. Raka diasuh oleh orang tua sahabat ketika kecilnya, Arya namanya. Ia diterima di keluarga Arya layaknya anak dan saudara kandung sendiri. Mereka selalu bersama dalam suka dan duka, juga dalam perih dan gembira. Kinipun mereka berdua telah menjadi mahasiswa sekarang, di bangku Fakultas Ekonomi Universitas Rabithah Indonesia. Hidup mereka sungguh berbeda walaupun sama, Raka tetap harus bekerja sebagai tukang selep beras agar ia dapat membiayai kuliah dan keperluan sehari-hariannya, karena ia masih merasa tak layak menerima kebaikan Pak Mustar, orang tua Arya. Arya selalu ada untuknya, selalu menghiburnya disaat duka, dan selalu membantunya disaat susah, hingga mereka mampu meraih gelar mahasiswa terbaik di kelasnya. Setiap tugas demi tugas mereka kerjakan bersama, maan bersama bahkan dimarahi pun bersama.
Arya lahir dari garis keturunan mujur, selalu tercukupi kebutuhannya, selalu mendapatkan apa yang dimintanya, dan selalu menjadi juara, namun Raka hanya orang biasa yang sebatangkara. Berkat Arya hidup Raka tak seberat dulu, Arya kan selalu menemaninya, selalu memperhatikannya, dan Arya selalu ada untuknya. Suatu saat Pak Mustar kembali menelfon, hanya ingin menawarkan pada Arya dan Raka kepada smartphone yang terbaru. Tujuan Pak Mustar adalah supaya mereka berdua mudah belajar dan tak lagi ketinggalan zaman. Tapi Raka menolak tawaran baik Pak Mustar, karena ia merasa sudah terlalu banyak merepotkan beliau. Karena itulah akhirnya hanya Arya yang diberi smartphone tersebut guna belajar dan sebatas hiburan.
Tak lama kemudian selang tiga hari, datanglah saat Arya menerima paket dari kedua orang tuanya berupa smartphone, ia senang sekali saat itu, dari senyumnya pancarkan kebahagiaan. Raka pun turut senang meski kadang terbesit rasa iri dalam hatinya. Namun sejak lahirnya smartphone dalam kehidupan Arya, kualitas persahabatan mereka berdua terkelupas hari demi hari, dan minggu demi minggu, kehidupan Arya berubah, menjadi congkak tak peduli sesama, menjadi cuek dengan keadaan sekitarnya, sampai belajarpun terbengkalai karena smartphone barunya itu. Saat bermain bersama, belajar, bahkan di jalan pun ia tak lepaskan smartphone itu dari genggamannya. Raka merasa sangat marah saat tugas presentasinya tak lagi beres karenanya. Persahabatan mereka melemah dan pertemanan diantara mereka berdua telah merapuh.
Puncak kemarahan Raka sangat terlihat di wajahnya ketika melihat Arya bermain smartphone saat tugas dan kuliah, kemarah itu membuatnya kesal dan marah sehingga tak sengaja memukul Arya dengan satu tangan sebagai peringatannya. Arya ikut emosi dan mendorongnya hingga jatuh, kemudian lari meninggalkannya. Ia melintas menyebrang jalan, dan tak sadarkan saat ada mobil yang melaju kencang hingga menabraknya. Ia terlempar ke atas aspal, smartphone nya rusak, kaki kanannya patah dan ia menderita gangguan kepala.
Saat itu Arya beranggapan bahwa Raka lah adalah asal mula masalah ini tiba, yang telah menyebabkannya luka dan patah kakinya. Meskipun setiap hari Raka mencoba menghiburnya, ia tak mudah memaafkannya, makanan yang selalu dibawa Raka untuknya tak pernah sedikitpun tersentuh oleh mulutnya. Bahkan ia tega mengusir Raka dari kamarnya karena emosi yang menyerangnya. 2 bulan telah berlalu dan kakinya pun tak kunjung pulih, Raka pun bergegas mencoba melihat tagihan rumah sakit pada resepsionis rumah sakit. Ternyata setelah Raka melihat biaya itu, tersentak hatinya melihat angka tujuh dengan enam angka nol di belakangnya.
Sejak saat itu Raka tak lagi meneruskan perkuliahannya dan memilih bekerja demi melengkapi biaya rumah sakit Arya. Ia bekerja lembur dan meminta tambahan shift di perusahaan selep. Ia hanya ingin mengembalikan keadaan sahabatnya yang dikarenakan perbuatannya itu.
Tanggal 10 Juni tepatnya, Raka melunasi semua pembayaran rumah sakit itu, ia menerima nota pembayarannya dan ingin memberitakan kabar baik itu pada sahabatnya. Tapi saat Arya dicarinya di kamar rumah sakit ia pun tak ada, Raka kebingungan dan mencarinya dari kamar satu ke lainnya, hingga ia temukannya di ujung koridor rumah sakit, Arya telah belajar berjalan secara pelan-pelan. Kedatangan Raka lagi-lagi tak disambut baik dengan Arya, Arya membentak menyuruhnya pergi, dan mendorongnya hingga terjatuh. Kemudian terpaksalah Raka pergi pulang dari hadapannya saat itu.
Arya tetap kesal dan marah padanya. Ketika ia melihat binder Raka yang tertinggal di atas lantai, ia pun memungutnya dan membawanya ke kamar. Ketika ia membuka binder itu, ia teringat kenangan-kenangan indah bersama sahabatnya, sampai ia melihat foto mereka berdua. Tapi hati Arya saat ini hanya dikuasai benci dan dengki. Ia lempar binder Raka ke meja, dan tak sengaja jatuhlah saat itu nota pembayaran rumah sakit yang berjumlah 7 juta tersebut. Hatinya pun tersentak dan teringat semua kebaikan-kebaikan Raka yang selalu ditolaknya, ia merasa bersalah dan ingin menemuinya saat itu juga. Arya membawa tongkatnya dan berusaha berjalan cepat ingin menemukan sahabatnya itu, ia cari dari sudut rumah sakit hingga ujungnya, kamar-per kamar, ruangan-per ruangan, hingga ia sampai ke depan tempat repsepsionis ia terjatuh dari berdirinya, dan membuatnya tak sadarkan diri. Ia dibawa oleh petugas kembali ke kamarnya dan tak sadarkan diri.
Lalu Raka mendengar berita itu dari repsepsionis rumah sakit, ia sangat merasa terpukul dan langsung menuju rumah sakit itu, ia saksikan sahabatnya yang tak sadarkan diri, ia tunggui hingga larut malam dan akhirnya tertidur di sampingnya. Arya pun terbangun tengah malam dan menangis melihat Raka telah berjuang demi dirinya. Raka terbangun karena tangisannya dan kemudian Arya meminta maaf padanya telah berbuat cela kepadanya, mulai saat itu Arya dan Raka kembali selalu bersama selayaknya pasangan sahabat yang solid. Raka pun menemani Arya dalam semua perawatannya, terapinya, pengobatannya dan semua keperluannya pun dicukupinya.
Semakin lama keadaan Arya semakin membaik, sehingga Raka lega melihatnya. Saat tiba tanggal 31 Oktober tepat ulang tahun Raka, ia ingin merayakannya dengan sahabatnya itu, namun saat Raka tiba di kamar Arya, ia kembali tak ditemukannya di kamar biasanya, Raka pun mencari satu demi satu ruangan namun tak kunjung melihat Arya. Hingga pada akhirnya ia melihat Arya telah berdiri sempurna di ujung koridor tempat ia berlatih berjalan, meski ia belum sembuh total tuk berjalan. Senyum mampu terlukiskan pada muka Raka saat itu, dan ia menangis terharu karenanya.
Sebulan kemudian Arya dibolehkan pulang dari rumah sakit itu, Arya pun tak sabar ingin menuntut ilmu bersama sahabatnya seperti dulu. Dan mulai saat itu mereka berjanji akan menempuh impiannya bukan dengan tali persahabatan namun dengan tali persaudaraan.