Suatu hal yang buruk sering kali kita sebut dengan bencana, padahal tak semua yang menggelitik emosi dan kesabaran adalah berstatus bencana. Kadang kita merasa terombang ambing dalam kesedihan, penyesalan, dan kemarahan saat hal buruk tersebut datang dan melanda bahagia. Bahkan partikel kesabaran tak mampu mengalahkan ozon lapisan emosi manusia yang terus berkembang dan bertambah. Saat itu kita merasa menjadi manusia yang paling sial dan duka, saat itu kita merasa paling tersiksa dan sengsara, dan saat itu juga kita tak akan mengingat nikmat dari NYA. Kadang kita tak sadarkan diri, bahwa saat itu juga kita tlah menganggap semua orang disamping kita salah, bedebah, dan pembuat semua sengsara. Padahal keadaan tak begitu sama, hanya aura kita yang bersifat duka, merasa terancam padahal hanya sebentar, dan merasa sengsara padahal hanya cobaan sementara.
Saat itu ingatlah nikmat dari NYA yang selalu menyertai kita tanpa ada batasnya, nafas yang terus berhembus, kehidupan yang masih berlanjut, kemuliaan yang slalu terhempas, dan lainnya yang takkan bisa kita sebutkan jumlahnya. Lalu bandingkan dengan hal buruk yang sering kita sebut dengan bencana, apakah sama? apakah imbang? apakah rata? Semua jawaban untuk soal itu adalah TAK SAMA pastinya. Jelas nikmat yang lebih banyak, jelas bahagia yang lebih sering, jelas semua yang baik bagi kita yang sering, namun hanya diri manusia lah yang kurang berikhtiar, kurang bersyukur, sehingga menganggap hidup selalu susah, selalu kurang, selalu sengsara, dan sebagainya.
Lalu, tanyakan pada diri anda.
Apakah anda termasuk orang yang tergolong demikian?
Jawablah dengan tingkah laku dan hati anda!
Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.
Ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar