Kalimat "gagal" adalah hantu yang sangat menakutkan bagi setiap orang yang ingin memulai usaha, entah itu usaha untuk belajar, usaha untuk memenangkan pertandingan, usaha untuk berubah menjadi lebih baik, atau usaha untuk menuju kesuksesan hidup, dan bahkan usaha dalam mendapatkan rasa cinta dari orang yang tersayang. Hantu berwujud kegagalan ini tak hanya menakuti para pemula dalam usahanya, namun bahkan para senior, ataupun orang yang sudah lama berusaha pun tak jarang ditakuti oleh momok yang berupa kegagalan tersebut.
Memang detik-detik dan menit pertama dalam usaha itu terasa mudah, namun jam demi jam yang menjadi hari demi hari perasaan mudah itu akan luntur, bahkan mampu hilang begitu saja. Perasaan yakin dan berani pada menit pertama dalam usaha pun berubah menjadi perasaan ragu yang bercampur takut serta dalam kebimbangan. Bahkan tak jarang para manusia berhenti di tengah-tengah jalan usahanya sepertihalnya kapal yang menenggelamkan diri di tengah-tengah laut perjalanannya.
Dalam saat-saat seperti itu, kita hanya mampu memilih diantara 2 hal yang menjadi kunci utama permasalahan itu, yaitu diantara menyerah atau berjuang bersimbah darah. Pilihan menyerah pun tak jarang dipilih oleh para manusia pesimisme yang mudah putus asanya. Memilih menyerah berarti memilih mengubur diri, memilih untuk bersembunyi, dan memilih untuk undur diri dari semua apa yang pernah ia janji-janjikan dalam membangun prinsipnya.
Tapi ingatlah, bahwa manusia yang megingkari prinsipnya sendiri berarti menelan ulang ludahnya sendiri, berarti mengubur diri dari apa-apa yang terjadi, dan berarti telah menjatuhkan harga diri sendiri. Padahal, sesungguhnya resep tuk usir hantu berupa kegagalan itu sederhana dan tak rumit rumusnya. Hanya ada 3 jenis resep di dalamnya, yaitu: abaikan kemalasan, buang kegengsian, dan bakar hanguslah keminderan, sehingga usaha kan berarti dan berbuah nantinya.



