Betapa Pentingnya Muraja’ah…

Murajaah Betapa Pentingnya Muraja’ah… forget…? Sebagai pelajar, mahasiswa dan (terlebih) penuntut ilmu syar’i yang telah banyak...

Selasa, 28 Februari 2017

Hilangkan Kata Kegagalan Dalam Kehidupan

Kalimat "gagal" adalah hantu yang sangat menakutkan bagi setiap orang yang ingin memulai usaha, entah itu usaha untuk belajar, usaha untuk memenangkan pertandingan, usaha untuk berubah menjadi lebih baik, atau usaha untuk menuju kesuksesan hidup, dan bahkan usaha dalam mendapatkan rasa cinta dari orang yang tersayang. Hantu berwujud kegagalan ini tak hanya menakuti para pemula dalam usahanya, namun bahkan para senior, ataupun orang yang sudah lama berusaha pun tak jarang ditakuti oleh momok yang berupa kegagalan tersebut.

Memang detik-detik dan menit pertama dalam usaha itu terasa mudah, namun jam demi jam yang menjadi hari demi hari perasaan mudah itu akan luntur, bahkan mampu hilang begitu saja. Perasaan yakin dan berani pada menit pertama dalam usaha pun berubah menjadi perasaan ragu yang bercampur takut serta dalam kebimbangan. Bahkan tak jarang para manusia berhenti di tengah-tengah jalan usahanya sepertihalnya kapal yang menenggelamkan diri di tengah-tengah laut perjalanannya.

Dalam saat-saat seperti itu, kita hanya mampu memilih diantara 2 hal yang menjadi kunci utama permasalahan itu, yaitu diantara menyerah atau berjuang bersimbah darah. Pilihan menyerah pun tak jarang dipilih oleh para manusia pesimisme yang mudah putus asanya. Memilih menyerah berarti memilih mengubur diri, memilih untuk bersembunyi, dan memilih untuk undur diri dari semua apa yang pernah ia janji-janjikan dalam membangun prinsipnya. 

Tapi ingatlah, bahwa manusia yang megingkari prinsipnya sendiri berarti menelan ulang ludahnya sendiri, berarti mengubur diri dari apa-apa yang terjadi, dan berarti telah menjatuhkan harga diri sendiri. Padahal, sesungguhnya resep tuk usir hantu berupa kegagalan itu sederhana dan tak rumit rumusnya. Hanya ada 3 jenis resep di dalamnya, yaitu: abaikan kemalasan, buang kegengsian, dan bakar hanguslah keminderan, sehingga usaha kan berarti dan berbuah nantinya.











KEKURANGAN YANG MUSTAHIL DIDAPAT

Seluruh manusia di jagad ini pasti memiliki suatu elemen kebutuhan serta keperluan di dalam kehidupan, sepertihalnya sandang, pangan dan juga papan. Tak mampu dipungkiri dan diingkari, bahkan kita pun mengetahui bahwa kebutuhan dan keperluan kehidupan takkan pernah mampu berhenti. 

Elemen kebutuhan dan keperluan itupun tak memandang jabatan, status, keadaan, kaya ataupun miskin. Karena seluruhnya pasti membutuhkan elemen kebutuhan dan keperluan tersebut. Tak hanya orang kaya yang membutuhkan makanan, sandang maupun papan, namun orang yang kurang dalam hal finansial pun memerlukan semua hal itu sebagai pelengkap kehidupan.


Selain itu semua, seluruh manusia pun memiliki perputaran roda kehidupan. Dan perputaran roda kehidupan itu, tak dimulai dari satu sisi yang sama. Mungkin ada orang yang memulai perputaran roda kehidupan dari posisi yang sudah di tengah bahkan di atas, seluruh keperluan nya pun terpenuhi dan tak ada satupun yang tak mampu dilengkapi. Tapi dilain sisi ada beberapa golongan orang yang memulai titik perputaran kehidupan di bawah, tak semua keperluan terpenuhi, dan juga tak semua kebutuhan mampu ia lengkapi.

Kedua kehidupan diatas jelaslah sangat berbeda, satu dari mereka berkecukupan, sedangkan satu yang lain merasakan kekurangan. Tapi, lucunya dan anehnya terdapat suatu keadaan dimana mereka berdua merasakan hal yang sama.

Orang yang kekurangan merasakan ada yang selalu kurang dalam kehidupannya, dan orang yang berkecukupan pun kadang merasakan hal seperti itu. Orang yang berada di bawah merasakan kebutuhan yang tak mampu ia penuhi, dan kadang orang yang berada di atas pun merasakan hal seperti itu pula.

Bilamana kekurangan orang yang di bawah itu jelas yaitu berupa sandang, pangan dan papan. Maka kekurangan apakah yang dirasakan orang yang berada di atas?

Apakah orang yang di atas juga kekurangan kebutuhan kehidupan sepertihalnya orang bawah?

Apakah orang yang di atas juga merasakan kekurangan kehidupan sepertihalnya sandang, pangan dan juga papan?

Kita pasti mampu menjawabnya dengan kata "TIDAK" karena telah jelas orang di yang di atas telah terpenuhi kebutuhan dan keperluan kehidupan nya, tak sepertihalnya orang yang di bawah yang selalu mengalami kekurangan dalam kehidupan.

Lalu, elemen apakah yang kadang dirasa sebagai kekurangan oleh orang yang di atas atau orang yang berkecukupan? Elemen itu dinamakan "KEMAUAN" / "GAYA HIDUP"


Gaya hidup berbeda dengan kebutuhan dan keperluan, gaya hidup merupakan suatau motif model kehidupan yang bila dikejar dan berusaha didapat, tak akan ada habisnya. Gaya kehidupan/kemauan akan terus bertambah meskipun selalu berusaha untuk kita penuhi.


Maka dari itu sesungguhnya...

"Sebenarnya kehidupan itu sederhana, hanya membutuhkan keperluan yang berkecukupan. Namun yang membuat kehidupan terlihat menyulitkan dan selalu bergelimang kekurangan itu adalah GAYA HIDUP"

Ambisi kurang dan rasa puas yang tak dibalikkan

Ambisi kurang dan rasa puas yang senantiasa bergulir dalam hati manusia adalah sebuah kewajaran dan memang sebuah kebolehan, namun tak jarang orang yang salah menempatkan posisi dua hal tersebut yang mampu menghasilkan kehancuran bahkan penyesalan di akhir kisah kehidupan. Segala sesuatu yang diletakkan bukan pada tempatnya takkan membuahkan sebuah keindahan, coba bayangkan bunga mawar indah yang dihiasi oleh merkahnya mahkota bunga diletakkan di samping tempat sampah yang sungguh kotor dan tak mengandung keindahan, maka tentu saja bunga mawar yang seharusnya terlihat indah, malah kalah dengan bau dan suasana tempat sampah yang sama sekali tak indah.

Tak jarang khalayak manusia meletakkan ambisi merasa kurang pada suatu hal yang seharusnya mereka diperintakhkan untuk bersyukur dan puas terhadapnya. Dan tak jarang khalayak manusia meletakkan rasa puas pada suatu hal yang harusnya mereka diperintahkan untuk selalu merasa kurang terhadapnya.

Manusia bekerja untuk sebuah hal bernama materi untuk mencukupi kebutuhan hidupnya di dunia, mereka mengais rejeki, berusaha bekerja, serta mengupayakan kekayaan. Tak sedikit dari mereka bahkan rela meninggalkan amalan-amalan agamanya demi menggali duniawinya. Inilah rasa kurang yang salah dan tak berada pada tempatnya, padalah harusnya masalah duniawi itu diusahakan tanpa meninggalkan amalan agama, lalu bersyukur sebanyak-banyaknya atas semua nikmat-Nya. Dengan begitu Allah akan selalu senantiasa menambah nikmat manusia, sepertihalanya dalam Surat Ibrahim ayat 7 yang berbunyi:


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Yang berarti: 
Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".


Maka pantaslah tak salah jika banyak orang bekerja full time sampai meninggalkan agama hingga keluarga namun ia tak kunjung sukses dan tak memunculkan keindahan dalam hidupnya.

Dan sebaliknya, sangat banyak manusia yang selalu merasa puas akan amalan agama tuk akhiratnya kelak, selalu merasa cukup, selalu merasa puas akan hal tersebut. Padahal justru dalam hal akhiratlah manusia diperintahkan tuk selalu berlomba-lomba dan selalu merasa kurang sepertihalnya yang diperintahkan oleh Allah dalam Surat Al-Baqarah ayat 148 yang berbunyi:


وَلِكُلٍّ وِجْهَةٌ هُوَ مُوَلِّيهَا ۖ فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Yang berarti:
Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.


Maka jangan pernah salah meletakkan ambisi kurang dan rasa puas dalam kehidupan, sehingga kita semua mampu memetik buah yang manis dalam sebuah kehidupan dunia maupun akhirat kelak. 

"Ambisi selalu merasa kurang ialah hanya untuk amalan kebaikan dan amalan akhirat bukan dunia ataupun materialistis. Dan rasa puas atau bersyukur ialah untuk perihal materialaistis dana dunia, yang pastinya saat kita merasa bersyukur dengan apa yang kita punya, maka Allah akan senanatiasa menambahkan nikmat-Nya kepada kita".